Volatile

Info

Letters of the unspoken.

Ask

Detox to Retox theme by Marg

Semoga Allah selalu menyibukkan kami dalam kebaikkan, sehingga keburukan dan kefuturan tidak lagi punya waktu untuk menyisip diantara waktu-waktu kami

— imajinasidetin.blogspot.com (via detindentist)

You

What You Can Change: You can smile at people you pass in the street, hold open doors, and say “hello.” You can treat everyone — even the barista at Starbucks when you’re hungover at 8 AM — like they are deserving of your respect and friendliness. You can do favors for people without expecting anything in return. You can associate yourself with people who are supportive of your life choices and your achievements. You can end social media contacts which are no good for your self-esteem. You can turn down offers and accept opportunities without feeling guilty about them. You can tell people you love them more often, and tell them what makes them special.

What You Can’t Change: You can’t please everyone — you probably can’t even please most people. You can live your life perfectly well and still find people who will be nasty, who will disagree, who will make you feel badly for being who you are. You cannot make them any better. You cannot get rid of the people who will reject you, or insult you, or make you cry.

But you can choose not to be one of those people. You can choose to be kind, even if the world isn’t always kind to you.

source: http://thoughtcatalog.com/2012/things-you-can-change-vs-things-you-cant/#V1aD8zJ25hVWkJpp.99

Posted 3 months ago

Surat kepada Para Pemimpin Indonesia Masa Depan - HANDRY SATRIAGO

Jakarta, 9 July 2012

Kepada para pemimpin Indonesia masa depan

Di manapun Anda berada

Di dunia yang semakin global

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop dari Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk “Made in The World” seperti celana jeans yg saya pakai sekarang. Karena, walaupun saya beli di Bandung dan berlabelkan “Made in Indonesia”, celana ini melibatkan lebih dari 15 negara dalam value chain pembuatannya.

Malam ini, ketika surat ini saya ketik dengan komputer yang mampu mengumpulkan 411 juta informasi dalam 0.23 detik untuk pencarian kata “leadership”, saya membayangkan keterbatasan mencari pengatahuan yg dihadapi ayah saya, saat mimpinya untuk sekolah sirna karena perang yang berkecamuk. Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga dia berani mendobrak keterbatasannya dengan merantau dan berjibaku untuk survive di berbagai kota di Sumatera hingga akhirnya sampai di Jakarta, Tidakkah dia takut dengan keterbatasannya?

Usianya baru 15 tahun saat itu, dan hidup tidak berjalan seperti yang dia inginkan.

Saya juga terkenang dengan peristiwa mengerikan yang saya hadapi sendiri pada tahun 1987, ketika saya tiba-tiba divonis menderita kanker lymphoma non-hodkin- kanker kelenjar getah bening, yang tumbuh di medulla spinalis sayadanmerusaknya sedemikian rupa sampai saya kehilangan kemampuan untuk berjalan.  Bulan-bulan yang melelahkan karena harus berobat ke sana ke mari, dan akhirnya berujung kepada keharusan menjalankan hidup dengan menggunakan kursi roda.  Saya ingat betul betapa takutnya saya untuk menjalani hidup saat itu. Keterbatasan menghadang di banyak hal.

Usia saya baru 17 tahun waktu itu, dan hidup berjalan jauh dari yang saya harapkan.

Apa yang bisa dilakukan ketika keterbatasan seakan menjelma menjadi tembok besar dan ketakutan adalah anak panah berapi yang terus dilontarkan kepada kita sehingga kita tidak berani maju dan terus mundur? 

Saya, dan mungkin juga ayah saya waktu itu, memulainya dengan menerima kenyataan.  Menerima bahwa jalan tidak lagi mulus, bahwa lapangan pertempuran saya jelek, dan amunisi saya tidak lengkap. “Reality bites” kata orang.  Betul itu.  Tapi menerima “gigitan” itu berguna untuk membuat kita mampu menyusun strategi baru.   Menghindarinya atau lari darinya justru membuat kita terlena mengasihani diri kita terus-menerus dan menenggelamkan kemampuan kita untuk dapat melawan balik.

Kemudian saya mengumpulkan kembali puing-puing mimpi saya.  Tidak! Mimpi tidak akan pernah mati. Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan, bahkan dibunuh, tapi mimpi tetap akan hidup.  Ketika keterbatasan dan ketakutan melanda, mimpi kita mungkin pecah, runtuh, dan berserakan, tapi tidak akan hilang.  Dengan usaha keras, kita bisa menyusunnya kembali, dan ketika mimpi telah kembali utuh, ia akan hidup, menyala, dan memberikan cahaya  terhadap pilihan jalan yang akan ditempuh untuk mewujudkannya.

Dua puluh enam tahun menjalani kehidupan dengan kursi roda membuat saya semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa memang telah menciptakan kita untuk menjadi makhluk yang paling tinggi kemampuan survival nya di muka bumi ini.  Kita diberikan rasa takut, yang merupakan mekanisme primitif yang dimiliki organisme untuk survive, yaitu keinginan untuk lari dari ancaman, atau… melawannya!.  Ketika pilihannya adalah melawan, maka perangkat perang telah disiapkanNya untuk kita. Perangkat itu terwujud dalam kemampuan bouncing back—daya pantul,  yang jika digunakan mampu membuat kita memantul tinggi ketika kita dihempaskan ke tanah.  Kitalah yang bisa membuat daya pantul itu bekerja.  Jika kita tak ingin melawan, perangkat perang tersebut bahkan tidak akan hadir.

Berpuluh kali, atau beratus kali atau mungkin beribu kali saya diserang rasa takut ketika menjalani kehidupan dengan kursi roda ini.  Ketika membuat pilihan kembali ke sekolah, ketika menyeret kaki untuk menaiki tangga bioskop agar bisa menemani wanita pujaan menonton, ketika memutuskan untuk kuliah, ketika menghadapi 4 lantai untuk bisa praktikum kuliah, ketika harus menjalani kemoterapi, ketika memulai bekerja, ketika naik pesawat, ketika akhirnya bisa ke luar negeri, ketika melamar calon istri, ketika mulai bekerja di GE yang penuh dengan orang asing, ketika menerima tawaran untuk mempimpin GE di Indonesia….Saya takut. Tembok besar berdiri tegak, angkuh, dan ribuan panah berapi menghujami saya.

Namun seiring dengan rasa takut yang timbul tersebut, mimpi saya untuk dapat menjalankan dan menikmati hidup menerangi jalan yang ingin saya tempuh.  Dan ketika perangkat perang—semangat untuk memantul, saya gunakan, saya seakan menjelma menjadi jenderal yang siap perang, yang didukung oleh ribuan pasukan—keluarga, teman, bahkan orang yang tak dikenal,  yang tiba-tiba hadir karena mereka percaya terhadap keyakinan saya.  Saya maju berperang, dengan keyakinan bahwa peperanganlah yang harus saya jalani, saya nikmati.  Hasil peperangan sendiri tidaklah terlalu penting, karena kalaupun kalah, toh saya akan berperang lagi.  Kalau mati, saya akan mengakhiri perang dengan senyum, karena saya tahu saya telah berjuang dengan sebaik-baiknya.  Sang Pencipta lah yang pada akhirnya memilihkan hasil dari perjuangan kita.

Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri.  Mewujudkan mimpi yang ingin dicapai.  Tidak perlu membayar orang untuk menjadi pengikut.  Jika mereka melihat anda dengan penuh keyakinan berani mempimpin diri anda sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu anda dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan anda.

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia tempat saya hidup sekarang ini menghasilkan pendapatan kotor setahun $70 triliun.  Sekitar 40% dari pendapatan dunia tersebut dihasilkan oleh 500 korporasi terbesar dunia, dan tidak ada satu pun yang berasal dari negara kita (133 dari Amerika Serikat, 79 dari China, 8 dari India). Terdapat sekurangnya 136 negara yang berkompetisi di dunia ini untuk mendapatkan keuntungan terbanyak dari proses ekonomi global, dan daya saing Indonesia terukur pada ranking 46.  Singkat kata, kita masih belum menjadi pemeran utama di panggung dunia yang tak berhenti mengglobal.

Pekerjaan rumah anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah.  Tidak berarti, tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan langkah anda untuk berperang.

Salam,

Handry Satriago

Posted 5 months ago with 23 notes

celoteh tentang tujuan

Before you start a war, you better know what you’re fighting for.

Dan ketika kamu sudah cukup dewasa, kamu akan menganggap bahwa ini benar. Sesuatu harus dilakukan berdasarkan tujuan, berdasarkan apa yang akan kita raih setelah melakukan hal itu.

Tapi sayangnya, kadang pikiran ini terlau skeptis, selalu menanyakan tujuan dan dampak dari hal-hal yang akan—bahkan belum—dilakukan. Mungkin ini bagus untuk antisipasi kalau-kalau apa yang akan dilakukan itu nantinya kurang bermanfaat atau bahkan menyimpang dari tujuan sehingga saya bisa menimbang berulang kali sebelum melakukan hal itu. Tapi sekali lagi, kadang pikiran ini terlalu skeptis dan mengawang (bahasa apa nih haha) terlau jauh sehingga pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul tanpa ada jawaban yang pasti, yang membuat saya harus menimbang sekian juta kali apa perlu melakukan hal itu, keputusan apa yang harus diambil, dan akhirnya galau untuk sesuatu yang belum pasti.

Pertanyaan pertama tentang tujuan muncul bukan dari benak saya, tapi seorang teman, sebut saja Chairil NIM 13011056. Malam itu di tengah riuh-rendahnya orang-orang yang mau osjur, Chairil, saya, dan satu lagi teman, panggil saja Aldhita—entah berawal darimana—ngomongin tentang pacaran.

C: …lo yakin Dit pacar lo pantes jadi calon imam lo?

A: Yakin.

C: Kalo lo Mae?

S: Gak tau…belom kepikiran nikah.

C: Loh kok?Jadi lo pacaran buat apa?Nafsu doang dong kalo gitu?

S: Eh ya kagaklah orang gak pernah ngapa-ngapain

C: Jadi buat apa dong?Kalo lo pacaran gak ada tujuannya ya ngapain pacaran.

Dan setelah itu saya baru mencari jawabannya. Saya tanya ibu, katanya untuk saling mengenal. Saya tanya seseorang sebut saja namanya Farhan dan kita sama-sama bingung. Untuk saling menjaga, berlebihan. Untuk selalu ada—gombal—yakali kemana-mana dikintilin pacar, smsan tiap hari, bosen. Untuk senang-senang?Nope. Ada temen-temen yang secara sukarela membagi kesenangannya dengan kita tanpa status dan tuntutan.

Malam itu, saya ulangi kata-kata Chairil di depannya, “Kalo lo pacaran gak ada tujuannya ya ngapain pacaran”.

Dan dalam agama saya—agama kami—tidak ada hubungan lawan jenis yang dinamakan pacaran. Pacaran itu katanya…haram.

Lantas, ketika kamu bingung akan tujuan hal yang kamu lakukan dan hukum terbaik sudah melarangmu melakukannya, mengapa kamu mengingkarinya?

Pertanyaan ini ditujukan kepada saya sendiri dan akan terus berkecamuk hingga waktu yang saya sendiri belum tau—semoga secepatnya, dengan jawaban yang sebenar-benarnya.

Rentetan pertanyaan kedua muncul beberapa hari yang lalu waktu pensubjuran. Saya yang skeptis dan labil tiba-tiba menjadi sangat bingung di detik-detik terakhir, galau menimbang dua subjurusan yang akan dipilih.

Kenapa pilih subjur itu? Karena pengen kerja di sana? Kenapa pengen kerja di sana? Hanya itu alasannya? Kalau sudah kerja di sana, terus mau ngapain? Belum tau? Kalau kamu masuk subjur itu dengan segala resikonya tapi kamu ternyata gak bisa kerja di sana? Untuk apa memperdalam sesuatu yang katanya tidak lagi berkembang, sudah ditinggalkan? Kalau subjur satunya? Gimana kalau nggak suka di tengah jalan? Gimana kalau ilmunya gak bisa diterapkan di sana? Kalau akhirnya semuanya bisa menggarap lahan manapun karena gelar yang sama, kenapa dipisahkan? Kalau katanya semua akan belajar dari awal lagi, jadi yang selama ini dipelajari untuk apa?

Terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak pertimbangan, dan terlalu jauh memikirkan. Saya berdoa, diskusi, curhat, dan akhirnya jengjengjeng… Di sinilah saya, menunggu tanggal 21 Januari untuk bersahabat dengan mikroba mendalami segala sesuatu tentang Bioproses.

Dan rentetan pertanyaan ketiga muncul dari pertanyaan-pertanyaan di secarik formulir.

“Apa yang akan kamu lakukan dalam kurun waktu lima tahun setelah lulus S1? Apa yang dapat kamu berikan kepada negaramu, terutama daerah dan orang-orang di sekitarmu? Mengapa kamu kuliah di fakultas yang kamu pilih? Mengapa kamu memilih mendalami ilmu yamg kamu pilih sekarang?”

Dari sekian banyak pertanyaan, bisakah kita menjawab “karena saya ingin melakukannya dan saya senang. Tidak ada alasan lain” atau “karena Tuhan telah berkehendak begitu”.

Dan sepertinya setiap langkah yang diambil memang harus dipikirkan tujuannya. Ternyata hidup memang tentang mencapai tujuan.

Posted 5 months ago with 1 note

People do grow up. Things also changed. Its okay to look through past, but dont let it be a barrier afterwards. To adapt and face it bravely, thats what to do. Be strong, be tough, stand like a hero, and die hard.

— Ahmad Furqan Hala

Posted 5 months ago

Flying cockroach: The scariest living-thing on earth

(Source: luluhbirdy)

akhirulsyah:

Age 104 old man and his age 100 wife, they are poor, they have been married for 81 years and have never had a group photo. When the old lady dress up the wedding dress, old man so happy to hug his wife, and said his wife is so beautiful ~

Simple is not necessarily the best, but the best must be simple.
Happiness is that simple!

4 Januari 2012

Tuhan, terima kasih karena telah memperkenalkan ciptaan-Mu yang hebat.

Tuhan, terima kasih untuk cerita yang Kau perdengarkan lewat mereka.

Terima kasih untuk segala harapan, cita-cita, dan motivasi yang mendorongku agar tidak menjadi lemah.

Dan terima kasih, untuk selalu mengingatkan bahwa aku ini bukanlah apa-apa.

Posted 5 months ago

9gag:

Are you still mad.

Posted 5 months ago from 9gag with 271 notes